bismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah. setiap orang pernah mengeluh, tapi terkadang ada diantara kita yang frekuensi mengeluhnya terlalu sering. TAPI…. tanpa kita sadari kita sering mengukur diri kita dengan membandingkan ke atas bukan ke bawah, sehingga kita sering mengeluh. Mungkin saatnyalah untuk menunduk kebawah melihat betapa banyak orang yang tidak seberuntung kita.

bener gak kawan ?

Kehidupan bukanlah jalan yang lurus dan mudah dilalui di mana kita bisa bepergian bebas tanpa halangan… Kehidupan seringkali berupa jalan-jalan sempit yang menyesatkan, di mana kita harus mencari jalan, tersesat dan bingung! Sering rasanya sampai pada jalan tak berujung... Namun, jika kita punya keyakinan Kepada Sang Maha Pemilik Kehidupan, pintu pasti akan dibukakan untuk kita… Mungkin bukan pintu yang selalu kita inginkan, namun pintu yang akhirnya akan terbukti, terbaik untuk kita!

sebuah kisah yang cukup menarik dibaca…. semoga dapat diambil manfaatnya,

Suatu kesempatan datang seorang ikhwah menghampiri, “Kak saya punya banyak masalah nih” sembari menunjukkan mimik pesimis.
“Ya, kenapa masalah sampai harus pusing?” kataku memulai pembicaraan.
“Gimana kak, anak-anak santri saya banyak yang mengeluh. Materi terlalu banyak, hafalan sudah menumpuk, belum lagi tugas menagih ”
“Dan termasuk antum juga yang mengeluh nih!” sindirku.
“Bagaimana tidak, saya sudah tidak punya semangat lagi mengajar” gerutunya.
“Mungkin antum tidak menyesuaikan materi , melebihi kapasitas kemampuan mereka”
“Mau diapa lagi, kita kan mau kejar target”.

“Yah kalau begitu, ini tidak perlu terlalu dipermasalahkan. Hanyalah proses. Awalnya memang banyak mengeluh. Nanti mereka terbiasa sendiri. Nah sekarang, coba pegang buku kecil ini” tanyaku sambil menyodorkan buku dari tas.
“Gimana? Berat tidak?”.
“Tidak kak, ini ringan aja kok!”.
“kalau begitu, coba antum pegang, tahan sampai dua menit”.
“Agak lebih berat kak”.
“Sekarang tahan selama lima menit”.
“Huft saya nggak bisa, beratnya bertambah”.
“Sehari.. sepekan… sebulan…”.
“Hmm… semakin berat, saya tidak bisa tahan!!!
“Nah apa kira-kira yang antum bisa ambil dari kejadian tadi? Buku ini kan beratnya biasa-biasa saja. Tapi kok tiba-tiba antum nggak bisa tahan beratnya”.
“Menurut saya semakin lama, semakin berat, ”tandasnya.
“Yah! Begitulah juga dengan masalah. Sebenarnya permasalahannya sederhana sekali. Tetapi karena terus dipendam tidak selesai-selesai juga. Akhirnya menjadi berat beban yang sulit”.

sahabatku yang dirahmati Allah,
Menurut Steven R Covey, Beratnya sebuah persoalan tidak tergantung kepada besar kecilnya persoalan itu tetapi terletak pada berapa lama Anda menanggung atau membawa persoalan tersebut, semakin lama Anda menanggungnya makin semakin beratlah beban hidup Anda”. Maka sebisa mungkin anda meletakkan masalah, lalu pikirkan solusinya.

Tak ditawar lagi, manusia fitrahnya memang suka mengeluh. Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir (al- Ma’aarij:19). Lanjut ayat itu, ketika mendapat masalah langsung protes,”Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah(al- Ma’aarij:20). Merasa berkecil hati dengan masalah, “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku“(al-Fajr:16). Anehnya, ia baru menganggap tidak punya masalah ketika mendapat kesenangan, “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.( al-Fajr:15).

Padahal, susah senang itu sama-sama punya masalah. Orang kadang tertipu dengan kesenangan. Kenikmatan dunia buatnya bukanlah ujian. Segala kondisi kehidupan itu selalu bercengkrama dengan masalah. Artinya hidup itu memang penuh dengan ujian dan masalah.
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (al-Ankabut:2).

Kita akan selalu diuji untuk mendapatkan penghargaan ketingkat yang lebih tinggi. Namun perlu diketahui, ujian yang kita hadapi tidaklah diuji kecuali sesuai kemampuan masing-masing. Artinya, bagaimanapun masalahnya akan ada solusinya. Kita bisa melewatinya, Allah tidak begitu saja memberikan reward begitu saja. Harus ada sebabnya. Disini dilihat bagaimana kita menjalani prosesnya. Hasilnya itu tergantung kehendakNya. Sekedar mengeluh tanpa memikirkan solusi hanya membuang waktu saja. Toh masalah tetap akan ada silih berganti.

“Sekarang, antum pikirkan bagaimana caranya menghasilkan uang satu juta! Saya beri waktu dua menit saja. Entah bagaimana yang terlintas dalam pikiranmu” lanjutku.
“Iya kak, baiklah yang penting halal kan”
“Iya, terserah caranya bagaimana, selesai?”
“Iya sudah kepikir”
“Nah periksa kantong antum, berkurang atau bertambah satu juta di dompetnya antum?”
“Tidak, tetap aja”
“Kenapa bisa, padahal sedemikian matangnya pemikiran antum”
“Karena saya belum pergi mencarinya!”

Begitulah gambaran masalah itu. Ternyata, sekedar memikirkan solusinya itu tidak cukup. Berbicara tentang perubahan tanpa tindakan, tidak akan pernah terjadi perubahan. Kita harus melakukannya. Sekedar mengilmui tidaklah cukup, kita harus mengamalkan serta mendakwahkan.

Mengeluh memang sesuatu yang wajar, tetapi juga harus sesuai kadarnya. Jangan sampai kita hanya berkeluh kesah tanpa ada perubahan tindakan. Mengeluh pada yang Maha Besar, betapa kecilnya masalah itu di depanNya. Sampai-sampai seorang sahabat Rasululah ketika sendalnya hilang, bukannya langsung mengeluhkan pada manusia. Justru ia berdo’a dulu kepada Allah, lalu pergi mencarinya.

..

MENGELUH, ITU MANUSIAWI..
TETAPI TERLALU BANYAK MENGELUH, ITU “WATAK” NAMANYA…
MENGELUH TIDAK AKAN MENYELESAIKAN MASALAH….
DAN JANGANLAH SUKA MENGELUH DI FACEBOOK, KARENA HANYA AKAN MEMPERPARAH KEADAAN. SERTA MENULARKAN AURA GELAP KE SIDANG PEMBACA… YANG AKAN MEMADAMKAN CAHAYA HATI MEREKA….

Sahabat….
Selembar kertas putih di atas meja…… disebut selembar kertas….
Selembar kertas di tong sampah…… disebut sampah…
Beda tempat, beda makna, beda nasib….
Kita bukan kertas….
Yang tidak mampu memilih tempat kita berada…
Kita adalah manusia merdeka, yang bebas untuk berhijrah…
Kita bukan kertas….
Yang maknanya tergantung pd orang lain yg memberi makna…
Kita adalah manusia merdeka, yg bebas memberi makna akan diri kita…..
BEDA MAKNA, BEDA NASIB…
MAKNA=NASIB
MAMPU MENGUBAH MAKNA = MAMPU MENGUBAH NASIB….
HIDUP ITU SEDERHANA, BUKAN…..???

Sahabat..
Mengeluh sejatinya perwujudan dari rasa tidak puas, tidak ikhlas menerima sebuah ketentuan yang terjadi, baik dari segi materi dan non materi.

Sahabat..
Sesungguhnya Allah SWT menyukai hamba yang senantiasa bersyukur dengan segala ketentuan dan bersabar ketika ditimpa sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan.

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya” (Qs An-Nahl 18).

Ketika seseorang hanyut dalam keluhan, pancainderanya pun tak mampu lagi memainkan perannya untuk melihat, mendengar, mencium dan merasakan nikmat yang bertebaran diberikan oleh Allah SWT tak henti-hentinya.

Hatinya serta merta buta dari mengingat dan bersyukur atas nikmat Allah yang tiada terbatas. Itulah sifat manusia yang selalu mempunyai keinginan yang tidak terbatas dan tidak pernah puas atas pemberian Allah kecuali hamba-hamba yang bersyukur

Sebaiknya, mengeluhlah hanya kepada Allah SWT, karena sesungguhnya semua kejadian sudah menjadi sebuah ketentuan-Nya dan hanya Dia-lah sebaik-baik pemberi solusi.

Jika ada niat dan tekad dengan sungguh-sungguh, insya Allah ikhlas dan sabar akan menjadi perhiasan yang akan mewarnai akhlak kita sehari-hari dan kita dihindarkan dari lisan dan sikap yang sering berkeluh-kesah.

Rasa syukur membuat hidup kita indah,
Rasa syukur membuat yang sedikit terasa cukup,
Rasa syukur mengubah apa yang kita miliki menjadi cukup dan berharga,
Rasa syukur mengubah masalah yang kita hadapi menjadi hikmah yang bernilai,
Rasa syukur mengubah makanan biasa terasa menjadi istimewa,
Rasa syukur dapat mengubah rumah yang sempit terasa lapang dan nyaman,
Rasa syukur mengubah kegagalan menjadi pelajaran berharga,
Rasa syukur mengubah kekeruhan suasana menjadi kejernihan,
Rasa syukur membuat sesuatu yang tidak enak menajdi enak,
Rasa syukur membuat sesuatu penolakan menjadi penerimaan,
Rasa syukur dapat mengubah rasa benci menjadi kasih sayang,
Rasa syukur membuat kedamaian di hati kita,
Rasa syukur menjadikan hari ini terasa damai,
Rasa syukur membuat masa lalu menjadi kenangan, masa depan
adalah harapan,
Ternyata rahasia membuat hidup indah itu hanya rasa syukur
dalam hati,

Sejatinya sepanjang hidup kita, ada yang lebih pantas mengeluh. Bekerja tanpa harus berhenti meskipun kita beristirahat. Dialah jantung kita. Sudah sekian tahun bekerja, 24 jam tanpa berhenti. Tapi tak pernah juga sekalipun mengeluhkan kerjanya, komplainbarang sepuluh menit saja sekedar istirahat.

Begitulah kehidupan, penuh dengan masalah. Tak harus membuat kita selalu ingin mengeluh. Meskipun kita tak ingin selalu dihimpit masalah. Ketahuilah! mungkin hari ini kita didera masalah besar. tetapi boleh jadi orang-orang dahulu masalahnya jauh lebih besar. ada orang lebih parah dari kita. Dahulu orang harus dibelah dua badannya untuk mempertahankan akidah. Kita mungkin cuma kendaraan mogok atau jalan macet, terpaksa mengeluh karena harus jalan kaki. Padahal dahulu orang mungkin harus berjalan kaki seharian di tengah padang pasir terik matahari.
“…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu..” (al-Baqarah:185)

Kita kadang tidak sadar begitu banyak nikmat Allah yang dikaruniakan. Solusinya cuma mengeluh saja. Sementara lupa untuk selalu bersyukur. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Alam Nasyrah:5).

sahabatku semua yang dirahmati Allah,

Pengalaman adalah guru yang paling brutal dan kejam. sebuah pengalaman pahit tentunya, namun berangsur-angsur akan berubah menjadi pengalaman adalah guru yang sangat berharga, jika akhirnya kebahagiaan menyapa.

sahabatku, Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya lalu lintas, sehingga layak dijuluki “raja jalanan”.

Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri “kerajaan” Honda – Soichiro Honda – diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru. “Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda,” tutur tokoh ini, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengindap lever. Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun ia trus bermimpi dan bermimpi…

Kecintaannya kepada mesin, mungkin ‘warisan’ dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya. Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya ingin menyaksikan pesawat terbang.

Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri.

Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.

Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama.

Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih? Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel.

apakah cukup itu saja ? tentu tidak…

Kuliah karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah – pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah.

“Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya,” ujar Honda, yang gandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan.

Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali.

Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.

Akhirnya, tahun 1947,setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, “sepeda motor” – cikal bakal lahirnya mobil Honda – itu diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok.

Di bawah bendera Honda Motor Company yang didirikannya pada September 1948, berhasil memproduksi mesin-mesin kecil untuk digunakan di sepeda motor, lalu memproduksi sepeda motor utuh.

Berkat keandalan tekniknya yang luar biasa, dan dibantu pemasar cerdik Fujisawa, sepeda motor Honda akhirnya mampu mengungguli Triumph dan Harley-Davidson di masing-masing pasar lokalnya, yakni Inggris dan AS. Pada 1959, Honda Motorcycles membuka diler pertamanya di AS. Dan selanjutnya adalah sejarah ‘Sukses 1%’. Tahun lalu, pendapatan imperium raksasa otomotif Jepang yang kini diperkuat 167.231 pegawai itu mencapai US$94,24 miliar (Rp866 triliun), dengan laba bersih US$5 miliar. Kemegahan bisnis itu dibangun Honda dengan merangkak dari bawah, melewati badai demi badai kegagalan.

Kekuatan Honda berasal dari filosofi yang dibangun Soichiro Honda, yaitu menghormati individu dan tiga kebahagiaan. Menghormati individu, seperti dijelaskan dalam misi dan visi korporat Honda Motor Company, mencerminkan keyakinan Honda akan kemampuan unik manusia. Penghormatan fundamental ini menentukan hubungan perusahaan dengan rekanan, pelanggan, penyalur, mitra bisnis dan masyarakat. Honda meyakini bahwa setiap orang yang terlibat dalam proses pembelian, penjualan atau penciptaan produk harus menerima perasaan bahagia dari pengalaman.

Bersama-sama ketiga kebahagiaan itu menghasilkan kebahagiaan afiliasi-perasaan positif yang muncul dari hubungan dengan Honda. Dengan begitu, diharapkan masyarakat menginginkan keberadaan Honda. Tiga kebahagiaan yang dimaksud itu adalah, kebahagiaan memproduksi, kebahagiaan menjual dan kebahagiaan membeli.

Itu artinya, kebahagiaan yang diharapkan ada pada diri setiap orang bukan semata-mata kebahagiaan mendapatkan sesuatu, tapi yang terpenting adalah  kebahagiaan memberikan sesuatu yang terbaik.

Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobinya, menjadi “raja” jalanan dunia, termasuk Indonesia. Soichiro Honda mengatakan, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. “Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya”, tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru dan berusahalah untuk merubah mimpi itu menjadi kenyataan.

Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari keluarga miskin. Jadi buat apa kita putus asa bersusah hati merenungi nasib dan kegagalan. Tetaplah tegar dan teruslah berusaha, lihatlah Honda sang ”Raja” jalanan.

5 Resep keberhasilan Honda:

1. Selalulah berambisi dan berjiwa muda.
2. Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan baru, khususkan waktu memperbaiki produksi.
3. Senangilah pekerjaan Anda dan usahakan buat kondisi kerja Anda senyaman mungkin.
4. Carilah irama kerja yang lancar dan harmonis.
5. Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja sama

sahabatku semua yang dirahmati Allah,

kiranya dengan beberapa kisah penyemangat hati diatas bisa memacu kita untuk tidak gampang mengeluh dan berputus asa dengan keadaaan yang sedang kita alami, dosenku selalu bilang “hidup ini sudah susah maka jangan ditambah susah”

Ingatlah, hidup ini tak lama, hanya beberapa jam saja. Coba kita hitung, andai jatah umur kita 62 tahun seperti umur Rasul SAW, berapa jam umur kita ?

24 jam x 31 hari (dibuat plus aja harinya) = 744 jam
744 jam x 12 bulan = 8928 jam
8928 jam x 62 tahun = 553.536 jam

Lihat, cuma 553.536 jam. Itu sedikit sekali, karena belum dikurangi waktu tidur dan usia dimana anda jadi bayi

Tidur anda selama 62 tahun berapa ?
7 jam x 31 hari = 217
217 jam x 12 bulan = 2604 jam
2604 jam x 62 tahun = 161448 jam

Cuma 161.448 jam ?

Kalau di total jadi 553.536 – 161.448 = 392.088 !

Apakah anda akan menggadaikan waktu seklumit itu hanya untuk mengejar kemakmuran dunia, mengadu domba orang, menyakiti hati orang, memecah belah bangsa, membunuh sesama manusia dan semua kerusakan itu ?

apalagi ditambah dengan semua keluhan-keluhan kamu  yang banyak …

padahal jika satu menit kita bersedih, 60 detik kita kehilangan kebahagian kita, coba itu kalikan selama 62 tahun, berapa waktu yag bisa kita peroleh untuk bahagia,

berapa hitung coba ?

sahabatku yang baik, Kesibukan dan tekanan hidup seringkali membuat kita lupa bersyukur, yaitu berterima kasih atas segala karunia Allah swt. Sesunguhnya ada banyak hal berupa kemudahan dan anugrah luar biasa dari Sang Maha Pencipta yang kita terima setiap hari. Bila kita banyak bersyukur atas semua anugrah tersebut ini akan memberi berjuta manfaat dan menjadikan hidup ini sangat menyenangkan.

Orang yang selalu bersyukur adalah orang yang merasa dalam curahan karunia dan kasih sayang-Nya. Karenanya, orang yang selalu bersyukur itu selalu dapat berpikir bahwa segala sesuatu pasti memiliki manfaat positif di kemudian hari. Kalaupun ditimpa cobaan atau memiliki kekurangan, rasa syukur itu akan membantu dirinya kembali memperoleh semangat untuk menghasilkan karya yang inspiratif, mengalahkan tantangan, sukses, berprestasi, dan mencapai segala impian.

“The seeds of discouragement cannot take root in a grateful heart. – Benih-benih keputusasaan tak akan dapat berakar di hati yang penuh rasa syukur,” kata Oel Olsteen, penulis buku Living Your Best Life Now.

Upayakan untuk menghiasi pikiran dan sikap dengan rasa syukur kapanpun dan dimanapun. Hal itu dapat mempengaruhi sikap mental menjadi lebih positif. Dengan begitu Anda perlahan-lahan mulai menarik hal-hal positif ke dalam kehidupan Anda.

Di balik segala sesuatu yang kita keluhkan pasti ada satu hal yang dapat kita syukuri. Bersyukurlah karena pada akhirnya Anda akan dapat melihat lebih banyak hal positif di dalam diri Anda,

manusia memang tidak pernah puas dengan apa yang dia dapat. Mereka yang kekurangan selalu ingin memiliki banyak uang dan harga melimpah. Mereka yang sudah berkecukupan selalu ingin memiliki banyak waktu lebih untuk bercengkerama bersama keluarga. Semua orang punya sudut pandang yang berbeda tentang kebahagiaan.

Sikap untuk tidak puas dan iri dengan orang lain membuat seseorang selalu merasa hidupnya kekurangan, baik materi, waktu, kasih sayang, dan sebagainya. Melihat orang lain, rasanya mereka jauh lebih bahagia, dan hidup kita sendiri selalu kurang. Karena itu, bersyukur adalah kunci agar kita selalu bahagia dan bisa melihat betapa banyak berkah dalam hidup kita.

Jika Anda selaku mengejar apa yang Anda inginkan, maka hal itu tidak akan ada habisnya. Jangan sampai Anda dikendalikan nafsu yang membuat Anda selalu merasa kekurangan dan menjadi orang yang tamak. Nikmati hidup Anda. Syukuri semua hal yang sudah Anda peroleh, sekecil apapun itu. Orang yang selalu bersyukur akan puas dengan hidupnya dan dilimpahi kebahagiaan.

Hidup ini adalah belajar… Belajar bersyukur meski tak cukup… Belajar ikhlas meski tak rela… Belajar memahami meski tak satu hati… Belajar sabar meski terbebani… Belajar mengasihi meski disakiti… Belajar tenang meski gelisah… Belajar percaya meski susah… Belajar untuk menyelesaikan setiap teka-teki yang sudah disiapkan oleh-Nya untuk kita. Yang terpenting adalah, dalam kondisi apapun.. lakukanlah selalu yang terbaik yang kita bisa…

Seberat apapun masalah kita, sekelam apapun beban dalam hidup kita, janganlah kita berlari, apalagi sembunyi! Temuilah Dia dengan lapang dada dan bersihnya hati. Yakinlah, dengan KESABARAN… kita akan bisa bertahan dari segala badai cobaan… Keadaan terpuruk bukanlah buruk, bila dihadapi dengan tenang, dan bijak serta berjuang terus pantang mundur, dan diiringi doa yang tulus! Saat kita mendapati masalah… yakinlah, sebenarnya kita tengah dipersiapkan-NYA tuk menjadi sosok yang tegar & berani. Semua orang pasti ingin hidup bahagia… Bahagia bukan karena memiliki segalanya, namun karena bersyukur dengan semua hal sederhana yang kita miliki…

baiklah sahabatku, marilah kita sama-sama belajar menghiasi hidup kita dengan penuh rasa syukur,

jadikan hidup kita indah hingga bisa mengindahkan hidup orang lain,

sempurnakan kekurangan orang lain, maka sempurnalah hidup kita…

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi. Bersyukur dapat membuat hidup kita lebih tentram.

bagaimana denganmu kawan, bersediakah menghiasi harimu dengan rasa syukur ?

ingat, komponen kunci untuk meraih kebahagiaan dan keberhasilan adalah syukur,

Banyak orang mengimpikan sukses. Bagi saya, sukses hanya bisa dicapai melalui kegagalan dan introspeksi berulang-ulang. Sesungguhnya, sukses merepresentasikan 1% dari pekerjaan Anda yang hanya bisa dihasilkan dari 99% yang dinamakan kegagalan.” (sochiro honda )

semoga bermanfaat.