bismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah. dalam kesunyian ada ketenangan, begitulah kira-kira hakekat kehidupan, seperti yang ditulis M. Iqbal dawami penulis buku cita-cita ( the secret and power within)

kawan, Setiap orang akan berbeda dalam menyikapi berbagai gejolak hidupnya. Menyikapi hidup terkadang gampang-gampang susah. Gampang untuk bicara, susah untuk dijalankan. Adakalanya kita bisa berpikiran jernih sehingga semuanya nampak indah, dan adakalanya hati kita dalam keadaan  gelap sehingga keluh kesah pun tak dapat dihindari.  Keluh kesah dan ketenangan silih berganti menyelimuti perjalanan hidup kita. Dan semuanya sudah menjadi hukum Allah bahwa kehidupan ini memang selalu berputar dan berpasang-pasangan, yang menjadikannya sebagai ujian, pelajaran, cobaan dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir.

 berikut ini tulisannya. bacalah seraya memahami maksud tersirat didalamnya,

Hampir setiap pagi jika anakku bangun pagi, aku sering mengajaknya jalan-jalan ke pematang sawah. Dia tampak antusias setiap kali aku ajak ke persawahan. Aku bonceng dia dengan sepeda ontel. Di sawah kami jalan-jalan, kadang duduk-duduk. Di sana kami melihat hamparan sawah sejauh mata memandang. Kami menyaksikan burung-burung yang terbang, saat petani mengusirnya. Kami juga melihat petani baru berdatangan, dan siap bekerja. Pada kali itu, kami melihat padi mulai menguning, yang beberapa hari sebelumnya masih tampak hijau. Jadi, kami menyaksikan perubahan padi dari hari ke hari.

Aku perhatikan padi tumbuh dalam kesunyian. Dia tumbuh dari mulai hijau hingga menguning. Dia tidak banyak “bicara” dan gembar-gembor untuk mempersiapkan kematangannya. Dan saat matang dia justru merunduk, tanda kerendahan hati. Semakin berisi semakin merunduk. Dia tidak berdiri tegak. Begitulah filosofi padi yang bisa aku ambil. Kerendahan hati wujud kesalehan sejati. Begitu ucap seorang kawan. Ah, aku berharap bisa meneladani padi itu, yang ketika matang justru semakin tunduk dan rendah hati.

Sering kita menyaksikan manusia yang sombong saat mendapatkan kemasyhurannya. Dia angkuh saat dirinya meraih sesuatu yang sudah diraihnya. Dia lupa bagaimana kehidupan dulunya. Di lupa bahwa apa yang dicapainya banyak campur tangan orang lain. Sombong, angkuh, dan egois adalah penyakit hati. Jadi, harus disembuhkan. Dan yang lebih penting lagi adalah menjaga diri dari penyakit tersebut. Bukankah pencegahan lebih penting ketimbang pengobatan?

Oleh karena itu, aku hendak membiasakan kepada anakku perilaku-perilaku positif sejak dini ini. Aku bersyukur bisa membawa dia kepada alam nyata yang segar. Aku perkenalkan dia sawah, sungai, tanaman, suara-suara alam: gemericik air, kicau burung, gonggongan anjing, dan lain sebagainya. Aku berharap dari situ dia mempunyai ingatan otentik masa kecilnya yang bisa dibawa ke masa dewasanya. Aku berharap dia bisa mempunyai pikiran otentik yang berpikir dan berbuat serta menjadi tumbuh secara alami layaknya alam ini, mereka tumbuh secara natural nan alami. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Masanobi Fukuoka dalam Revolusi Sebatang Jerami (1991):

“Dalam mengasuh anak, banyak orangtua membuat kekeliruan yang sama dengan yang mula-mula saya lakukan di kebun buah-buahan. Misalnya, mengajarkan musik kepada anak-anak sama tidak perlunya seperti memangkas pohon-pohonan di kebun buah-buahan. Telinga anak-anak menangkap musik. Gemericik aliran sungai, suara kuakan katak di tepi sungai, geremisik dedaunan di hutan, semua suara alam ini merupakan musik–musik yang sebenarnya. Tetapi bila bermacam suara gaduh mengganggu masuk dan mengaburkan telinga, apresiasi langsung dan murni dari anak-anak terhadap musik mundur. Jika dibiarkan berlangsung terus seperti itu, anak tidak akan mampu mendengarkan kicauan seekor burung atau desauan angin sebagai nyanyian-nyanyian.”

Jalan yang aku tempuh adalah jalan sunyi. Jalan yang jarang dilalui orang. Tidak semua orang suka dengan jalanku. Barangkali tidak popular dan tidak biasa. Barangkali tidak menjanjikan apa-apa, selain kesunyian. Entahlah. Yang jelas demikian faktanya. Di antara sekian banyak teman-temanku, mulai dari teman SD, MTs, MAK, hingga PT, sepengetahuanku tidak satu pun ada yang menempuh jalan sepertiku. De facto. Merek lebih memilih jalan lain, yang ramai, dan menjanjikan. Ya, menjanjikan segala sesuatunya.

Tetapi, mengapa aku memilih jalan sunyi itu padahal jelas-jelas banyak orang tidak menempuhnya?

Hingga saat ini aku belum mendapat jawaban yang mantap. Paling-paling aku hanya bisa menjawab, bahwa aku memilih jalan itu karena sesuai dengan karakter dan kepribadianku. Ya, begitu saja. Bisa saja aku memilih jalan yang banyak ditempuh layaknya kawan-kawanku juga, karena secara kualitas keilmuan, kapabilitas, tidak jauh berbeda dengan mereka. Tapi, ya itu tadi, sebagaimana yang aku sebutkan di atas, tidak cocok dengan karakter dan kepribadianku.

Meski jalan ini jalan penuh kesunyian aku harus menempuhnya, karena sudah menjadi pilihanku. Aku telah memilihnya, maka aku harus bertanggungjawab. Jadi, aku tidak boleh mengeluh (paling tidak jangan mengeluh terlalu banyak, haha), dan tidak pula bersedih karena kondisi itu. Mengapa aku mengatakan demikian, karena keluhan dan kesedihan sering aku rasakan di jalan ini. Jalan ini begitu terjal, penuh kerikil, bebatuan, dan lubang yang menganga, yang membuatku sulit berjalan cepat, dan harus hati-hati dalam melangkah. Semua keadaan itu menggoda aku untuk marah, mengeluh, menggerutu, sumpah serapah, dan hal-hal negatif lainnya.

Aku harus yakin bahwa jalan ini adalah jalan menuju keindahan dan kebahagiaan. Aku harus yakin seyakin-yakinnya di ujung jalan sana ada sebuah “dunia” yang penuh pesona, penuh kenikmatan, penuh keindahan, dan penuh kebahagiaan, yang kontras dengan jalan ini sendiri. Itulah “sebuah dunia” yang dijadikan balasan bagiku jika kelak aku dapat sampai di ujung jalan ini. Aku harus yakin bahwa jalan yang kutempuh ini bukan jalan buntu, bukan pula jalan yang penuh kesia-siaan. Aku harus yakin itu.

Mungkin keresahan dan kegelisahan yang kutempuh di jalan ini disebabkan oleh orientasiku juga yang serba kapitalistis, di mana segala hal yang kulakukan harus mendatangkan finansial alias rupiah. Maka jadinya aku resah dan gelisah tatkala gagal meraup uang. Namun begitu, wajar sebetulnya jika aku mempunyai niat dan orientasi ini, karena manusiawi—butuh sandang, pangan, dan papan—terlebih aku sudah beristri dan beranak. Cuma jangan terlalu, itu saja. Jadi, kuncinya ada pada kontrol diri.

Aku sedikit yakin seandainya aku tidak money oriented maka jalan yang kutempuh ini akan penuh dengan kebahagiaan. Lakukan segala sesuatunya sebagai panggilan hidup, sebagai pengabdian pada masyarakat. Betapa tidak, aku akan banyak membantu orang dalam segi pencerahan hidup, penambah wawasan bagi banyak orang, dan “petunjuk” menuju hidup kayak makna. Bukankah itu perilaku terpuji? Sungguh, aku harus yakin dengan hal itu. Keyakinan itu penting karena akan membuat aku percaya diri dalam hidup ini. Keyakinan itu penting karena akan memantapkan jiwa dan ragaku.

Teringat dengan puisi Emha Ainun Nadjib berjudul “Jalan Sunyi”:

Akhirnya kutempuh jalan yang sunyi
Mendengarkan lagu bisu sendiri di lubuk hati
Puisi yang kusembunyikan dari kata – kata
Cinta yang tak kan kutemukan bentuknya

Apabila kau dengar tangis di saat lengang
Kalau bulan senyap dan langit meremang
Sesekali temuilah detak – detik pelaminan ruh sepi hidupku
Agar terjadi saat saling mengusap peluh dendam rindu

Kuanyam dari dan malam dalam nyanyian
Kerajut waktu dengan darah berlarut – larut
Tak habis menimpukku batu demi batu kepalsuan
Demi mengongkosi penantian ke Larut

Bagiku yang paling berkesan dari puisi di atas adalah kelompok bait terakhir, yang menggambarkan betapa beratnya orang menempuh jalan sunyi. Segala derita dari waktu ke waktu dia rasakan, dan hanya dia yang merasakannya. Tak ada orang lain, tak ada yang peduli. Ujian datang silih berganti, tak habis-habisnya. Semua itu dia lakukan demi sebuah idealisme, sebuah cita-cita yang didambakannya. Itulah ongkos yang harus dia bayar dengan begitu mahalnya. Jalan sunyi adalah jalan penuh onak-duri. Dan dia menempuh jalan itu.

Di jalan sunyi ini aku seperti tidak menghamba pada siapa pun. Aku merasa menjadi manusia merdeka. Aku tidak terikat oleh apa pun, tidak meruang dan mewaktu. Jalan ramai hanya membuat aku si pejalan sunyi menjadi kering jiwa, mematikan rasa, tidak peka dengan lingkungan. Jalan ini jauh dari hiruk-pikuk. Di jalan ini yang ada hanyalah ketenangan yang bercabang: bisa melenakan dan bisa menyadarkan. Tinggal bagaimana yang menjalaninya.

Aku akan terus berjalan di jalan sunyi ini, karena aku merasa membuatku menemukan nurani.

M. IQBAL DAWAMI

sahabatku yang aku sayangi karena Allah.

Manusia dengan perbedaan cara pandangnya, selalu menanti kehadiran masa-masa yang tenang sehingga bisa menjadikannya sebagai sebuah kebahagiaan yang dalam. Masa-masa yang tenang ini akan sangat berdampak pada penjernihan akal dan pikiran manusia.  Tetapi tidak sedikit pula manusia yang dapat merasakan ketenangan hati dengan tidak terpengaruh tempat dan waktu.  Bagi mereka, suasana ramai maupun sepi, malam ataupun siang, semuanya sama karena sudah terpancar sinar ketenangan dalam hatinya. Sungguh beruntung orang yang seperti itu.

Lain dengan mereka, lain pula dengan diriku. Aku termasuk orang yang sangat menikmati kesunyian malam. Bagiku, suasana malam menjelang pagi adalah masa-masa yang selalu indah untuk aku nikmati, sungguh suasana yang sangat menenggelamkan segala kegelisahan dan kekacauan pikiranku. Teringat akan masa lalu yang penuh kebahagiaan bersama orangtua dan saudara kandungku, teringat akan masa kecilku saat bermain bersama sahabat-sahabatku, teringat masa penuh keceriaan bersama kawan-kawanku semasa sekolah. Terkadang semuanya membuat hati larut dalam kerinduan yang dalam. tapi sekrang kini, aku berada di nun jauh yang jauh dari ibu dan adikqu, sungguh aku rindu.

sering saya sejenak berhenti dipinggir jalan sekedar melepas lelah setelah bersibuk ria dengan kuliah maupun melepasa lelah setelah bekerja keras, dengan sebotol green tea dingin, kuhentikan kuda besiku dipinggir jalan, dan kupandangi setiap motor yang lewat, aneh kan. disanalah saya kadang merenung dengan berbagai pemasalahan yang sering melanda diri, tak apalah duduk sendirian, dikeheningan malam seraya membuka catatan kata-kata mutiara yang para guru selipkan ditengah2 mengajarnya. tak peduli orang berkata apa tentang diriku, yg terpenting saya menemukan ketenangan-ketenangan, kadang berbincang-bincang dengan penjual gorengan maupun pedagang asongan mengenai banyak hal, tentang kehidupan,keluhan mereka, tentang politik, korupsi, tentang pendidikan, dan banyak hal yang seringnya luput dibicarakan dibangku bangku sekolah, saya banyak belajar dari mereka, sikap optimisme, rasa pantang menyerah dan rela berkorban untuk anak istrinya dirumah mengalahkan hawa dingin malam yang menyengat. subhanaAllah.

malam itu indah, malam itu anugerag, malam yang penuh keberkahan, keberkahan bagi siapa saja yang mau mengisinya dengan ibadah mengharap keridhaanya..dan satu lagi malam yang penuh kemulian adalah bagi siapa saja yang mau menghidupkan sepertiga malam untuk mengingat Allah swt, inilah ketenangan yang sesungguhnya,  Aku semakin percaya bahwa memang benar Allah memuliakan sepertiga malam terakhir bagi orang-orang yang hendak beribadah kepada-Nya. Saat itulah diri kita merasa sendirian kecuali Sang Khalik yang selalu terjaga dan menemani kita. Saat itulah diri kita merasa bukanlah apa-apa, terlalu kecil diri kita dihadapan Allah tetapi akan menjadi mulia bila kita mampu bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa. Ketenangan dan kedamaian hatiku terasa memuncak manakala aku mendapatkan sepertiga malam yang penuh keberkahan dan ampunan-Nya. Tiada waktu yang paling indah bagiku kecuali di sepertiga malam terakhir itu.

Dan alangkah beruntungnya jika kita bisa memanfaatkan sepertiga malam itu untuk melakukan ibadah kepada Allah yang telah menciptakan kita, memohon ampunan-Nya serta mensyukuri atas segala karunia-Nya. Akan tetapi segala sesuatu yang berkaitan dengan ibadah, tentunya tidak akan pernah terlepas dari godaan syaitan laknatullah. Mereka menggoda manusia untuk malas bangun malam, mereka lebih menyukai manusia yang tertidur lelap dengan mimpi indahnya, mereka senang bila manusia tertidur pulas dengan selimut hangatnya. Itulah tipu daya syaitan laknatullah agar manusia tidak mengambil keuntungan besar dari sepertiga malamnya.

Segala kondisi adalah tantangan dan setiap masa adalah cobaan, namun di balik itu terdapat hikmah yang besar untuk orang-orang yang berpikir. Berpikir untuk menjawab semua tantangan, berpikir untuk teguh dalam menghadapi cobaan. Namun bagiku kesunyian malam tetaplah sebuah ketenangan yang sesungguhnya, penuh hikmah dan pahala. Lain orang lain pula cara mencari ketenangannya, dan aku selalu berharap mendapatkan ketenangan di kesunyian malam yang berujung kebahagiaan di panasnya siang.

bagaimana denganmu sahabatku ?

sungguh dalam kesunyiaan malam terdapat ketenangan-ketenangan,

indahkan hatimu dalam kemuliaan malam.

Ya ALLAH..
Peluklah hati ini di saat ku mulai merasa gelisah dalam penantian penuh kesabaran ini,terkadang Hatiku merasa rindu pada dia insan yang ku cintai dalam diamku…
Ya Robb.. Biarlah ku simpul dalam setiap do’a-do’a dalam Istikharahku kepada-MU Rasa ini, agar kelak Engkau Satukan hatinya dan hatiku yang kan bertaut bertahta dan bersemi indah karna Redha-MU….

Ya Robb… Tuntunlah Hati hamba agar hanya mau menerima CINTA seorang Insan yang benar-benar Pilihan-MU bukan Semata-mata Pilihan Nafsuku.

Ya Robb, Bila dia memang baik untuk kami,agama kami,masa depan dunia dan akhirat kami,bisa membimbing dan membawa kami lebih dekat pada-Mu,Maka dekatkanlah diri dengannya & satukanlah kami dalam pernikahan yang sakinah,mawaddah,warrahmah..

Tapi kalau bukan dia yang terbaik,Maka jangan biarkan kekaguman kami menjadi suka apalagi cinta,Jadikanlah kekaguman kami seperti orang lain kagum padanya,,Engkaulah Maha membolak-balikkan hati Maka kami titipkan rasa ini,kami serahkan semuanya pada-Mu,karna semua ini adalah milik-Mu..

Ya Allah, jadikanlah aku di usiaku saat ini menjadi pribadi yang lebih baik dari usia sebelumnya. Terangilah hidupku dengan cahya Illahi-Mu, hidayah-Mu, serta petunjuk-Mu ya Robb. Lindungilah diri ini dari marabahaya, sifat dzholim, rasa malas, takut, putus asa, rasa lemah serta sedih lainnya. Wahai Yang Maha Membolak- balikkan hati kami, Tetapkanlah hati ini kepada agama-Mu. Bersihkanlah noda – noda hitam di hati ini dengan mata air surga-Mu, lunakkanlah hati ini dengan kasih sayang-Mu….
Dan matikanlah aku dalam keadaan husnul khotimah.

Ya Allah.. jadikanlah aku seorang dengan pribadi yang besar, baik , kuat dan amanah..”

” Yang memiliki banyak cinta agar dapat mencintai dan dicintai saudara-saudaraku.. ya Allah, hanya kepadmulah tempat kami berharap dan hanya kepadamulah tempat kami berserah diri.

semoga bermanfaat.