mudikbismillahirahmanirahim,

sahabatku semua yang dirahmati Allah, jakarta dengan segala gemerlapnya, tiba-tiba menjadi sepi, jalanan tidak macet, ekonomi berputar lambat, langitpun cerah, suara-suara kendaraaan yang menderu tiap harinya, asap yang tebal, suara-suara yang berisik, berangsur menghilang entah kemana, kapan hal itu terjadi? jawabnya saat mereka semua kembali ke “kampung halaman tercinta”

bicara soal pulang kampung, adalah hal yang indah, kampung adalah tempat kita dilahirkan, tempait bermain kita sewaktu kecil, tempat kita mencari ilmu, tempat kawan-kawan kita tinggal, sungainya, gunungnya, airnya, udara, orang-orangnya, suasananya, tenggang rasanya, rumah-rumahnya, cintanya, yang membuat kita rindu akan kembali ke kampung halaman masing-masing, ya gak kawan.

pagi ini, dengan suasana yang dingin, langit yang gelap mulai cerah kemerah-merahan, ayam berkokok bersautan, aktifitas orang berkerja sudah mulai kelihatan, suara adzan terdengar memecah kehinangan malam, semilir angin pagi menusuk badan, inilah suasana yang selalu kurindukan sepanjang waktuku,

Memandang langit nan indah
Menikmati ciptaan Sang Maha Pemurah
Ucapan syukur menghias lidah
Berharap kan bisa selalu terarah

salam hangat pijar mentari
sehangat segelas kopi susu diatas batu,
pacu semangat menyongsong hari

mengejar cita cita sepanjang waktu

Tidakkah kita memiliki rasa rindu pula dengan kampung akhirat kita? Tidakkah kita ingin menikmati indahnya kampung akhirat yang berkekalan waktunya?

sebuah kisah, cerita kembali kepada allah [Taubatnya Malik bin Dinar]

 

Diriwayatkan dari Malik bin Dinar, dia pernah ditanya tentang sebab-sebab dia bertaubat, maka dia berkata: “Aku adalah seorang polisi dan aku sedang asyik menikmati khamr (arak), kemudian aku beli seorang budak perempuan dengan harga mahal, maka dia melahirkan seorang anak perempuan, aku pun menyayanginya. Ketika dia mulai bisa berjalan, cintaku bertambah padanya. Setiap kali aku meletakkan minuman keras dihadapanku anak itu datang padaku dan mengambilnya dan menuangkannya di bajuku, ketika umurnya menginjak dua tahun dia meninggal dunia, maka aku pun sangat sedih atas musibah ini.

Ketika malam dipertengahan bulan Sya’ban pada malam Jum’at, aku meneguk khamr lalu tidur belum shalat isya’. Dalam tidur itu aku bermimpi seakan-akan kiamat itu terjadi, dan terompet sangkakala ditiup, orang mati dibangkitkan, seluruh makhluk dikumpulkan dan aku berada bersama mereka, kemudian aku mendengar sesuatu yang bergerak dibelakangku, ketika aku menoleh ke arahnya kulihat ular yang sangat besar berwarna hitam kebiru-biruan membuka mulutnya menuju kearahku, maka aku lari tunggang langgang karena ketakutan, ditengah jalan kutemui seorang syeikh yang berpakaian putih dengan wangi yang semerbak, maka aku ucapkan salam atasnya dia pun menjawabnya, dan aku berkata: “Wahai syeikh, tolong lindungilah aku dari ular ini”!. Maka syeikh itu menangis dan berkata padaku: “Aku orang yang lemah dan ular itu lebih kuat dariku dan aku tak mampu mengatasinya, bergegaslah engkau mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu”, maka aku bergegas lari dan memanjat sebuah tebing Neraka hingga sampai pada ujung tebing itu, aku lihat kobaran api Neraka yang sangat dahsyat, hampir saja aku terjatuh kedalamnya karena rasa takutku pada ular itu. Namun pada waktu itu seorang menjerit memanggil-ku, “Kembalilah engkau karena engkau bukan penghuni Neraka itu!”, aku pun tenang mendengarnya, maka turunlah aku dari tebing itu dan pulang. Sedang ular yang mengejarku kembali. Aku datangi syeikh tadi dan aku katakan, “Wahai syeikh, aku mohon kepadamu agar melindungiku dari ular itu namun engkau tak mampu berbuat apa-apa”. Menangislah syeikh itu seraya berkata, “Aku seorang yang lemah tetapi pergilah ke gunung itu karena di sana terdapat banyak simpanan kaum muslimin, kalau engkau punya barang simpanan di sana maka barang itu akan menolongmu”

Aku melihat ke gunung yang bulat itu yang terbuat dari perak. Di sana ada setrika yang telah retak dan tirai-tirai yang tergantung yang setiap lubang cahaya mempunyai daun-daun pintu dari emas dan di setiap daun pintu itu mempunyai tirai sutera. Ketika aku lihat gunung itu, aku langsung lari karena aku menemui ular besar, tatkala ular itu mendekatiku, para malaikat berteriak: “Angkatlah tirai-tirai itu dan bukalah pintu-pintunya dan mendakilah kesana!” Mudah-mudahan dia punya barang titipan di sana yang dapat melindunginya dari musuhnya (ular). Ketika tirai-tirai itu diangkat dan pintu-pintu telah dibuka, ada beberapa anak dengan wajah berseri mengawasiku dari atas. Ular itu semakin mendekat padaku maka aku kebingungan, berteriaklah anak-anak itu: “Celakalah kamu sekalian! Cepatlah naik semuanya karena ular besar itu telah mendekatinya”. Maka naiklah mereka dengan serentak, aku lihat anak perempuanku yang telah meninggal ikut mengawasiku bersama mereka. Ketika dia melihatku, dia menangis dan berkata: “Ayahku, demi Allah!” Kemudian dia me-lompat bagaikan anak panah yang dilepaskan, kemudian dia mengulurkan tangan kirinya pada tangan kananku dan menariknya, kemudian dia ulurkan tangan kanan-nya ke ular itu, namun binatang tersebut lari.

Kemudian dia mendudukkanku dan dia duduk di pangkuanku, maka aku pegang tangan kanannya untuk menghelai jenggotku dan berkata: “Wahai ayahku! Ingatlah Firman Allah yang berbunyi “Belumlah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk menundukkan hati mereka kepada Allah”.(QS. Al Hadid: 16).

Maka aku menangis dan berkata: “Wahai anakku, kalian semua faham tentang Al Quran”, maka dia berkata: “Wahai ayahku, kami lebih tahu tentang Al Quran darimu”, aku berkata: “Ceritakanlah padaku tentang ular yang ingin membunuhku”, dia menjawab: “Itulah pekerjaanmu yang buruk yang selama ini engkau kerjakan, maka Allah akan memasukkanmu ke dalam api Neraka”, aku berkata: “Ceritakanlah tentang Syeikh yang berjalan di jalanku itu”, dia menjawab: “Wahai ayahku, itulah amal sholeh yang sedikit hingga tak mampu menolongmu”, aku berkata: “Wahai anakku, apa yang kalian perbuat di gunung itu?”, dia menjawab : Kami adalah anak-anak orang muslimin yang di sini hingga terjadinya kiamat, kami menunggu kalian hingga datang pada kami kemudian kami memberi syafa’at kepada kalian”. (HR. Muslim dalam shahihnya No. 2635).

Berkata Malik: “Maka akupun takut dan aku tuangkan seluruh minuman keras itu dan kupecahkan seluruh botol-botol minuman kemudian aku bertaubat pada Allah, dan inilah cerita tentang taubatku pada Allah”.

sahabatku semua yang dirahmati Allah,

Hidup didunia adalah kesempatan yang sangat berharga bagi setiap muslim. Karena dengan kesempatan tersebutlah kita dapat menggunakan waktu yang diberikan oleh Allah SWT sebagai ladang amal untuk bekal menuju akhirat.

Memikirkan hidup didunia, selayaknya sama dengan kita memikirkan akhirat juga. Karena kata Rasulullah Saw mengatakan bahwa bekerjalah untuk duniamu seolah engkau akan hidup selama-lamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati esok .Dua  yhal tersebut merupakan keseimbangan (tawazun). Namun, perlu mendapatkan porsi yang sama. Dunia sebagai tempat persinggahan manusia perlu diisi dengan sebaik-baik investasi dunia dan akhirat.

“Dunia ini gelap, dan ilmu merupakan cahaya. Akan tetapi ilmu tanpa kepercayaan hanyalah bayangan belaka.”

Rasul kita yang mulia telah menunjukkan keindahan kata-katanya yang menerobos masuk ke dalam jiwa para pendengarnya beberapa hari sebelum beliau wafat. Pada waktu Rasul Agung Penutup semua Nabi dan Rasul, yang atas kebijaksanaan Allah yang bersifat Welas Asih diutus untuk memberi petunjuk kepada ummat manusia ke jalan yang benar dan lurus, sewaktu beliau menelentang di atas pangkuan Siti Aisyah r.a. dikelilingi oleh kaum Muslimin Madinah dalam jumlah yang amat besar, pemuda dan pemudi, pria dan wanita, bahkan anak-anakpun turut hadir, di mana setiap wajah menunjukkan kecintaannya yang ikhlas kepada Nabi dan Rasul pilihan, dengan air mata bercucuran, termasuk air mata para pahlawan yang tidak pernah gentar menghadapi musuh dalam perjuangan menegakkan Islam; mereka berkerumun melihat Pemimpin, sahabat, guru yang kekasih, bahkan seorang Rasul Allah untuk mereka, yang telah mengeluarkan mereka dari kegelapan khurafat menuju cahaya kebenaran yang terang benderang. Beliau sedang berangsur-angsur mendekati batas perjalanan hidupnya yang telah ditentukan Allah s.w.t. dan akan meninggalkan mereka untuk tidak kembali lagi. Tidak heran jika terjadi hujan air mata, semua hati tertimpa kesedihan yang amat berat. Dalam suasana kesedihan yang sedang mencekam berat itulah, salah seorang yang hadir bertanya: “Ya Rasulallah! Tuan sekarang sedang sakit yang sebentar lagi akan mengantar Tuan ke Hadirat Tuhan. Apakah yang harus kami lakukan?”

Menjawab pertanyaan itu beliau bersabda: “Pada kamu ada Al-Qur’an.”

Para Sahabat berkata: “Benar, ya Rasulallah. Pada kami ada Kitabullah penerang hati, dan di hadapan kami ada petunjuk yang tidak mungkin salah. Akan tetapi selama ini setiap kali timbul persoalan, kami bisa bertanya, mohon petunjuk dan pendapat Tuan. Sesudah nanti Tuan dipanggil Allah ke Hadirat-Nya — Ya Rasulallah – di manakah kami dapat menemukan petunjuk?”

Sabda beliau: “Kamu harus berpegang kepada Sunnahku.”

Seorang hadirin bertanya pula: “Akan tetapi ya Rasulallah, sesudah Tuan wafat, akan timbul beberapa kejadian atau persoalan yang tidak pernah terjadi selama Tuan masih ada. Jika demikian, apakah yang harus kami lakukan, dan apa pula yang harus dilakukan oleh orang-orang yang hidup sesudah kami?”

Mendengar pertanyaan ini, beliau perlahan-lahan mengangkat kepala, sedangkan dari wajahnya memancar cahaya ke-Nabian dan dari matanya keluar sorot semacam kilat. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah s.w.t. telah memberikan petunjuk kepada setiap manusia, yaitu hatinya, dan memberikan penunjuk jalan, yaitu akalnya. Pergunakanlah keduanya dalam segala hal, pastilah kamu mendapat petunjuk ke jalan yang lurus, dengan karunia Allah.”

sahabatku yang dirahmati Allah,

Hari akhirat, hari setelah kematian yang wajib diyakini kebenarannya oleh setiap orang yang beriman kepada Allah ta’ala dan kebenaran agama-Nya. Hari itulah hari pembalasan semua amal perbuatan manusia, hari perhitungan yang sempurna, hari ditampakkannya semua perbuatan yang tersembunyi sewaktu di dunia, hari yang pada waktu itu orang-orang yang melampaui batas akan berkata dengan penuh penyesalan.

يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” (Qs. Al Fajr: 24)

Maka seharusnya setiap muslim yang mementingkan keselamatan dirinya benar-benar memberikan perhatian besar dalam mempersiapkan diri dan mengumpulkan bekal untuk menghadapi hari yang kekal abadi ini. Karena pada hakikatnya, hari inilah masa depan dan hari esok manusia yang sesungguhnya, yang kedatangan hari tersebut sangat cepat seiring dengan cepat berlalunya usia manusia. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Hasyr: 18)

Dunia tempat persinggahan sementara dan sebagai ladang akhirat tempat kita mengumpulkan bekal untuk menempuh perjalanan menuju negeri yang kekal abadi itu. Barangsiapa yang mengumpulkan bekal yang cukup maka dengan izin Allah dia akan sampai ke tujuan dengan selamat, dan barang siapa yang bekalnya kurang maka dikhawatirkan dia tidak akan sampai ke tujuan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita sikap yang benar dalam kehidupan di dunia dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HR. Al Bukhari no. 6053)

Ada suatu tempat, yang pasti kita akan kembali ke sana, yang boleh jadi luput dari persiapanpersiapan yang terencana, lalai dari penjadwalan yang tersusun runut, dan dilupakan dari bagian rencana kehidupan kita selaku manusia. Kampung akhirat.

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS. Al-An’aam: 32)

Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti? (QS. Al-A’raaf: 169)

dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya? (QS. Yusuf: 109)

sahabatku yang dirahmati Allah

Maka hendaklah setiap Muslim yang mementingkan keselamatan dirinya benar-benar memberikan perhatian besar dalam mempersiapkan diri dan mengumpulkan bekal untuk menghadapi hari yang kekal abadi ini.
Umar bin Khatab mengingatkan dalam ucapannya Hisablah ( intropeksilah) dirimu saat ini, sebelum kamu dihisap (diperiksa/dihitung amal perbuatanmu pada hari kiamat). Timbanglah dirimu saat ini sebelum amal perbuatanmu ditimbang (pada hari kiamat) karena sesungguhnya akan mudah bagimu menghadapi hari kiamat jika kamu mengintropeksi dirimu saat ini, dan hiasilah dirimu dengan amal saleh untuk menghadapi hari yang besar ketika manusia dihadapkan kepada Allah ( Qs. al-Hasyr/59:18 & Qs. al-Haqqah/69:18)

Ali bin Abi Thalib juga mengingatkan, Sesungguhnya dunia telah pergi meninggaljan kita, sedangkan akhirat telah datang menghampiri kita, dan masing-masing  keduanya (dunia dan akhirat) ada pengagum, maka jadilah kamu orang yang mengagumi / mencintai akhirat dan janganlah kamu menjadi orang yang mengagumi dunia karena sesungguhnya saat ini waktunya beramal dan tidak ada perhitungan, adapun besok di akhirat adalah saat perhitungan dan tidak ada waktu lagi untuk beramal.
Rasul Muhammad saw mengajarkan sikap yang benar dalam kehidupan di dunia dengan sabdanya “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.
Barangsiapa yang mengumpulkan bekal yang cukup dengan izin Allah dia akan sampai ke tujuan dengan selamat dan barangsiapa yang bekalnya kurang maka dikhawatirkan dia tidak akan sampai ditujuan. Bukankah kita sedang melakukan perjalanan bukankah kita orang asing yang sedang melakukan perjalanan serta terus merindukan kembali kampung akhirat.
Sikap hidup ini sebaiknya menjadikan tidak panjang angan-angan dan terlalu muluk dalam menjalankan kehiduan dunia. Berbekallah dan sebaik bekal adalah takwa yang menjadikan pelindung diri seorang hamba dengan siksaan dan kemurkaan Allah yang akan dikhawatirkan akan menimpanya yaitu dengan melakukan ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat kepadaNya. Balasannya adalah Surga.
Perjalanan pertama di alam akhirat adalah alam kubur dimana akan bertemu malaikat Munkar Nakir tentang siapa Tuhanmu? apa agamamu? dan siapa nabimu?

sudah siapkah kita dengan semua itu?

Allah berfirman; Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar- benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya mentaati kesabaran ( Qs. Al-ashr/103:1-3)

Sebagian Ulama mengatakan, ” Dahulu orang-orang shalih merasa malu kepada Allah kalau mereka mendapati hari mereka yang sekarang sama dengan hari yang kemarin”. Hal ini mengisyaratkan perlu adanya penambahan kebaikan dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Mereka malu bila tidak bisa melakukan kebaikan yang lebih banyak dengan kebaikan kemarin. Oleh karena itu, barangsiapa yang hidupnya demikian bertambah umur bertambah juga kebaikan maka hidup lebih baik baginya daripada kematian.

sahabatku yang terhebat

Mudik yang selalu kita lakukan adalah salah satu bagian kecil dari perjalanan pulang kita ke kampung halaman abadi, yaitu kampung akhirat. Jika perjalanan mudik saja kita persiapkan dengan matang, maka sudah selayaknya perjalanan pulang ke kampung akhirat harus lebih kita persiapkan dengan sebaik-baiknya. Di dunia ini, kita semua adalah perantau, kita semua adalah musafir. Tidak selamanya kita akan berdiam di dunia ini. Sebagaimana telah digambarkan oleh Rasulullah SAW, bahwa kita di dunia ini laksana seorang musafir yang berteduh di bawah rindangnya sebuah pohon yang kemudian akan berlalu untuk melanjutkan perjalanan. Maka Rasulullah SAW berpesan, kun fid dunya ka annaka ghoriibun aw aabirus sabiil, jadilah dirimu di dunia seperti orang asing atau seperti seorang musafir. (HR. Bukhori). Itulah gambaran kehidupan kita di dunia. Dunia yang kita tempati saat ini hanyalah persinggahan sementara. Jangan sampai kita terkecoh akan keindahan dan kenikmatannya sehingga melupakan kita akan kampung akhirat.

Namun, banyak dari kita yang menunda-nunda untuk mencari bekal perjalanan menuju akhirat kelak.

  •  Bekal pertama yang diperlukan untuk bisa pulang ke akhirat dengan selamat adalah “Iman”. Setiap Muslim hendaknya memiliki iman yang kuat, kokoh dan mengakar dalam hatinya. Sehingga mampu bersabar dalam menerima semua ujian dan cobaan dari Allah SWT. Dan dengan iman kepada Allah itulah yang akan menjadikan hati kita semakin istiqomah dalam menempuh perjalanan hidup yang singkat ini.
  • Yang kedua adalah “Amal Sholeh”. Dengan amal sholeh inilah kita akan memperoleh “tiket” yang akan mempermudahkan kita menuju Surga. Allah SWT berfirman :
ان الله يدخل الذين ءامنوا وعملوا الصالحات جنات تجرى من تحتها الانهار ان الله يفعل ما يريد
Sesungguhnya Allah memasukkan orang yang beriman dan mengerjakan amal shloleh ke dalam surga-surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang dia kehendaki. (QS. Al-Hajj : 14)

Sekarang mari coba kita hitung bekal kita, sudah cukupkah untuk menuju kampung akhirat? Modalnya kita hitung dari 3 hal: 1) Bagaimana hubungan kita dengan diri kita. 2) Bagaimana hubungan kita dengan orang lain, dan 3) bagaimana hubungan kita dengan Sang Maha Pencipta.

Pertama hubungan kita dengan diri sendiri berkaitan dengan pola pikir, sikap, makanan dan pakaian. Apakah pola pikir dan sikap kita sudah positif, produktif dan kontributif? Jujurkah kita? Punya integritaskah kita? Apakah makanan yang kita makan semuanya halal, bukan berasal dari uang hasil korupsi, bukan dari uang hasil menipu, bukan dari gaji buta? Apakah pakaian yang kita pakai sudah sempurna menutup aurat?

Kedua, bagaimana ketika kita berhubungan dengan orang lain? Apakah kita menjaga kehormatan saudara kita? Apakah kita bersikap baik dengan orang tua kita? Apakah kita menghormati tetangga kita? Apakah kita peduli dengan orang-orang yang hidupnya tertindas? Apakah kita sudah bisa menjadi suri tauladan buat pasangan hidup dan putra-putri kita?

Ketiga, bagaimana hubungan kita dengan Allah Sang Maha Pencipta. Apakah kita sering bertamu ke rumah ibadahNya? Apakah kita sudah menjalankan semua perintah dan meninggalkan laranganNya? Apakah kita sering mengingatNya? Apakah kita selalu membawa serta Allah kemanapun dan dimanapun kita berada?

Akhirnya, perjalanan manusia akan sampai pada tahapan akhir; surga yang penuh kenikmatan, atau neraka yang penuh dengan siksaan yang pedih. Di sinilah Allah ta’ala akan memberikan balasan yang sempurna bagi manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka di dunia. Allah ta’ala berfirman:

فَأَمَّا مَنْ طَغَى وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى، وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

“Adapun orang-orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (Qs.  An Naazi’aat: 37-41).

Maka balasan akhir yang baik hanyalah Allah peruntukkan bagi orang-orang yang bertakwa dan membekali dirinya dengan ketaatan kepada-Nya, serta menjauhi perbuatan yang menyimpang dari agama-Nya. Allah ta’ala berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوّاً فِي الْأَرْضِ وَلا فَسَاداً وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, dan kesudahan (yang baik) itu (surga) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Qashash: 83)

Mari kita jadikan dunia ini sebagai ladang tuk mengumpulkan perbekalan mudik kita ke kampung akhirat. Semoga ia mencukupi sehingga kita mendapatkan tempat yang terbaik disana. Allahumma amin.

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. [QS. An-Nahl: 30-32]
Sebaik-baik bekal untuk perjalanan ke akhirat adalah taqwa, yang berarti “menjadikan pelindung antara diri seorang hamba dengan siksaan dan kemurkaan Allah yang dikhawatirkan akan menimpanya, yaitu (dengan) melakukan ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat kepada-Nya.

Jadikan kehidupan yang kita jalani ini  menjadi hari-hari pengumpulan bekal mudik ke kampung akhirat kita, dan tidak cukup sampai disitu, jadikan seluruh sisa usia kita, menjadi ajang persiapan mudik ke kampung akhirat, dengan kesabaran dalam menjaga diri dari perbuatan kemaksiatan dan bersabar diri dalam mengerjakan kebaikan.

Saudaraku, sudah cukupkah bekalmu jika harus mudik ke kampung akhirat?

“Ya Allah, janganlah Engkau putuskan aku dari rahmatMu, sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa terhadap sesuatu”