anak adalah titipanbismillahirahmanirahim,

sahabatku semua yang dirahmati Allah, suasana pagi hari yang dingin, langit gelap dihiasi hujan rintik-rintik, didalam rumah ditemani secangkir teh hangat dengan ditambah lantunan sholawatan habieb syech- yaa syaidal musthofa, kucoba merangkai bait kata-demi kata yang semoga bermanfaat ini, harapanku,

sahabatku, pernahkah orang tuamu memberi nasehat kepadamu ? pasti jawabnya Pernah, nasehat adalah suatu bentuk kecintaan yang mulia, tanda kepedulian, tanda kasih sayang, yang disampaikan dengan cara berbeda,

jika pertanyaannya dibalik, pernakah kamu memberi nasehat kepada orang tuamu ? nah, ini yang kadang kita jadi persoalan, entar kita dikira songong lah, tak hormat kepada orang tua dan sebagainya, padahal Apabila orang tua atau saudara atau selain keduanya dari penghuni rumah melakukan sesuatu kemungkaran, wajib saling memberi nasihat,

pertanyaan selanjutnya, beranikah kita melakukan itu ?

sebuah kisah menarik semoga dapat menjawab pertanyaan saya diatas,..

Ada seorang ibu yang merasa geram terhadap putrinya karena ia tidak lagi seperti dulu dalam menghormati para tamu. Pekan ini, ia tidak menghormati tamu ibunya. Sang ibu merasa heran karena putrinya adalah seorang gadis yang saat beragama.

Di hari terakhir dari pekan ini sang putri Fatimah namanya duduk ketika ibunya menyambut tetangganya yang datang berkunjung. Hampir saja sang ibu pingsan ketika melihat anaknya tetap terpaku duduk tidak bergerak dari tempat duduknya; tidak berdiri untuk menyambut tetangganya yang baik hati lagi mulia. Lebih-lebih ketika tetangga itu mendekati si putri sambil mengulurkan tangannya. Akan tetapi sang putri, pura-pura tidak tahu dan tidak menyambut uluran tangan tetangganya. Ia membiarkan saja sang tetangga berdiri beberapa saat sambil mengulurkan tangannya didepan ibunya yang geram dan kebingungan. Hingga ibunya berteriak:

“Berdiri! Dan jabat tangannya Fatimah!”

Sang putri hanya membalas dengan pandangan ketidak pedulian tanpa bergeser sedikitpun dari tempat duduknya seolah-olah ia tuli tidak mendengar kata-kata ibunya. Sang tetangga merasa sangat tidak enak terhadap kelakukan sang putri dan ia menganggap bahwa kehormatannya telah diinjak-injak dan dihina. Maka segera ia menarik tangannya kembali dan berbalik ingin segera pulang ke rumahnya sambil mengatakan:

“Sepertinya, saya mengunjungi kalian pada waktu yang tidak tepat.”

Tiba-tiba Fatimah meloncat dari tempat duduknya dan memegangi tangan tetangganya lalu mencium kepalanya sambil mengatakan:

“Maafkan bibi, demi Allah saya tidak bermaksud berbuat buruk kepada bibi.”

Fatimah menuntun tangannya dengan lembut penuh dengan rasa sayang dan penghormatan dan mengajaknya duduk seraya mengatakan:

“Tahukah engkau wahai bibi, betapa saya mencintaimu dan menghormatimu.”

Fatimah berhasil menenangkan perasaan tetangganya dan menghapus goresan yang telah melukai hatinya karena sikapnya yang aneh dan tidak terfahami. Sementara ibunya menahan amarahnya jangan sampai termuntahkan dihadapan putrinya. Sang tetanggapun berpamitan untuk pulang dan Fatimah segera bangkit mengulurkan tangan kanannya sedangkan tangan kirinnya memegangi tangan kanan tetangganya agar tidak mengulurkannya kepadanya. Dia mengatakan:

“Seyogyanya tangan kanan saya harus tetap terulur tanpa bibi mengulurkan tangan bibi kepadaku agar saya dapat melunasi keburukan yang telah aku perbuat terhadap bibi.”

Akan tetapi bibi, sang tetangga langsung mendekap Fatimah kedadanya dan menciumi kepalanya seraya mengatakan:

“Tidak apa-apa anakku, karena kamu telah bersumpah bahwa kamu tidak berniat buruk kepadaku.”

Begitu sang tetangga meninggalkan rumah, sang ibu langsung menegur putrinya dalam kemarahan yang tertahan:

“Mengapa kamu bertindak seperti ini Fatimah?”

Fathimah menjawab:

“Saya tahu kalau saya menyebabkan ibu merasa tidak enak seperti ini, maafkan saya ibu.”

Ibunya bertanya:

“Ia mengulurkan tangannya kepadamu, tetapi kamu tetap duduk tidak berdiri, dan tidak menjabat tangannya?!”

Fatimah menjawab:

“Ibu juga melakukan yang sama setiap hari!”

Ibu berteriak dengan penuh rasa heran:

“Apa? Aku melakukannya setiap hari?!”

Fatimah menjawab:

“Iya, Ibu melakukannya siang dan malam.”

Ibunya semakin marah terheran-heran:

“Apa? Aku melakukannya siang dan malam?”

Ia menjawab:

“Betul Ibu, Dia menjulurkan tangannya kepada ibu, tapi ibu tidak pernah menjabat tangan-Nya.”

Ibunya semakin marah tidak faham:

“Siapa yang mengulurkan tangan-Nya kepadaku dan aku tidak menyambutnya?!”

Fathimah menjawab:

“Allah bu, Allah yang Maha Suci mengulurkan tangan-Nya kepada ibu di siang hari agar ibu bertaubat, dan Dia mengulurkan tangan-Nya kepada Ibu di malam hari agar ibu bertaubat, akan tetapi ibu tidak mau bertaubat. Ibu tidak mengulurkan tangan kepada-Nya.”

Ibu terdiam. Ucapan putrinya membuatnya terperanjat dan tertegun. Sang putri melanjutkan perkataannya:

“Bukankah ibu merasa bersedih, ketika saya tidak mengulurkan tangan untuk menjabat tangan tetangga kita tadi? Dan ibu khawatir jika dia berpresepsi buruk kepadaku? Saya wahai ibu, merasa bersedih setiap hari ketika mendapati ibu tidak mengulurkan tangan untuk bertaubat kepada Allah yang Maha Suci yang selalu mengulurkan tangan-Nya kepada ibu di siang hari dan di malam hari”.

Nabi Muhammad saw bersabda dalam sebuah hadis shahih:

“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar bertaubat orang yang berbuat kesalahan di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar bertaubat orang yang berbuat kesalahan di malam hari hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya.” (HR. Muslim)

Maka berlinanglah kedua mata sang ibu. Sang putri melanjutkan ucapannya, semakin menajamkan nasihatnya:

“Saya sangat mengkhawatirkan ibu, ketika ibu tidak shalat, karena pertama kali yang akan ditanyakan kepada ibu di hari Qiamat adalah shalat. Saya sangat bersedih ketika melihat ibu keluar dari rumah tanpa menutup aurat yang diperintahkan oleh Allah SWT. Bukankah ibu merasa tidak enak ketika melihat tindakanku terhadap tetangga kita tadi? Saya wahai ibu sangat merasa tidak enak dihadapan teman-temanku ketika mereka mempertanyakan kepadaku tentang keluarnya ibu tanpa jilbab dan tanpa memperhatikan aturan-aturan agama sementara saya adalah gadis yang berjilbab.”

Maka air mata taubat semakin deras mengalir membasahi kedua pipi sang ibu dan putripun ikut menangis karena tidak bisa menahan rasa harunya melihat ibunya memperhatikan nasihat dan menerima kebenaran. Maka iapun bangkit dan memeluk ibunya dengan penuh kasih sayang yang amat dalam. Sementara ibunya dengan isak tangisnya mengatakan:

“Aku bertaubat kepada-Mu ya Allah… Aku bertaubat kepadamu ya Allah…”

Oleh karena itu wahai para ibu, wahai para bapak, wahai para gadis, wahai para pemuda bertaubatlah kepada Allah, jangan ditunda-tunda lagi. Allah mengetahui keadaan kita. Allah mengetahui apa yang tersirat dalam hati kita masing-masing. Dan Allah menunggu taubat kita setiap saat. Dan Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat. Maka, apakah kita selalu bertaubat kepada-Nya?

Allah berfirman,

“Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? (Ali-Imran: ayat 135)

sahabatku yang dirahmati Allah,

apakah sebagai anak kita tidak wajib mengingatkan orang tua kita jika mereka salah?

menurut kamu bagaimana ? wajib atau tidak ?

kalau saya jelas wajib harus, lalu bagaimana cara berdakwah kepada mereka ?

Bapak mempunyai kedudukan, ibu mempunyai kedudukan, saudara, sama saja saudara tua atau muda mempunyai kedudukan, dan semuanya diperlakukan dengan tatakrama yang baik dan sopan santun yang halus sebatas kemampuan, sehingga tujuan bisa tercapai dan sirna yang dikhawatirkan.

Orang yang memberi nasihat dan yang berdakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala hendaknya memilih waktu yang tepat dan cara yang sopan, terutama bersama kedua orang tua, karena keduanya tidak seperti karib kerabat yang lainnya. Keduanya mempunyai kedudukan agung dan berbakti kepada keduanya merupakan kewajiban sebatas kemampuan. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قال الله تعالى:) وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ١٤ وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ١٥ (  [ لقمان : 14-15]

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.  Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.   Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik,…(QS. Luqman: 14-15)

Apabila kedua orang tua  kafir, anak harus mempergauli keduanya dengan baik dan berbuat ihsan kepada mereka, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi petunjuk kepada mereka dengan sebab dia. . Apabila bapak atau ibu malas shalat di masjid atau melakukan sesuatu perbuatan maksiat yang lain lainnya yang terjadi padanya, maka sang anak wajib memberi nasihat dengan cara yang baik dan meminta bantuan atas hal itu dengan orang yang terbaik dari penghuni rumah. Demikian pula bersama ibu, saudara tua dan selain keduanya dari penghuni rumah sehingga bisa didapatkan yang diharapkan. sungguh indah bukan bila saling nasehat menasehati guna mencari keridhoan allah,

sahabatku yang dirahmati Allah,

Terdapat banyak ayat yang mendudukkan ridha orang tua setelah ridha Allah dan keutamaan berbakti kepada orang tua adalah sesudah keutamaan beriman kepada Allah. Allah berfirman yang artinya, “Dan Kami perintahkan kepada manusia  kepada dua orang ibu-bapanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah  kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.” (QS. Lukman: 14). Lihat pula QS. al-Isra 23-24, an-Nisa 36, al-An’am 151, al-Ankabut 08.

Anak- anak membutuhkan figur dalam masa pertumbuhan mereka. Maka dari itu, orangtua haruslah bertindak sebagai cermin bagi anak-anak.Dan komunikasi yang baik akan menjadi perantara serta menjembatani kepentingan dan kemauan diantara keduanya.

nah, kalo orang tuanya selalu berlaku keburukan, maka jangan salahkan anak, jika mereka juga bertindak demikian ya gak kawan, ? kan pepatah “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”

lalu apa yang harus kita lakukan dalam mendidik anak ?

Komunikasi adalah cara untuk membangun ikatan yang kuat dengan orang-orang di sekitar kita, termasuk anak- anak kita. Dengan adanya komunikasi, kita juga bisa belajar memahami apa yang mereka perlukan dan atau inginkan.

komunikasi antara orangtua dan anak sangat dibutuhkan dalam sebuah keluarga, baik secara verbal maupun non verbal. Banyak orangtua yang tidak tahu bagaimana berkomunikasi yang baik dengan anak-anaknya padahal komunikasi antara orangtua dan anak sangatlah penting. Dengan adanya komunikasi yang baik, maka akan menimbulkan hubungan yang harmonis antar anggota keluarga.

Berkomunikasi dengan anak tidak harus selalu berhubungan dengan hal-hal yang bersifat serius, namun dapat dimulai dari hal-hal kecil yang menyenangkan seperti waktu bermainnya, kegiatan lain yang disukainya selain bermain, teman-temannya atau juga acara TV yang sering ditontonnya. Di masa kanak-kanak, komunikasi verbal merupakan hal terpenting yang harus dilakukan orangtua secara proaktif karena di masa inilah anak belajar banyak hal termasuk berbicara, ngobrol dan bercerita. Selain itu anak juga akan meniru banyak hal dari lingkungan terdekat, terutama dari orangtua dan keluarganya.

Untuk menjadi orangtua yang bijak memang agak sulit dan gampang dalam menerapkannya kepada anak-anak, apalagi anak yang sedang bertumbuh kembang yang sedang mencari jatidirinya. Untuk menjadi bijak, orangtua juga harus terlebih dahulu disiplin dalam kehidupan seharihari, di mana anak bisa mencontoh perilaku orangtuanya terlebih dahulu dan baru bisa diterapkan pada anak-anaknya. Banyak anak akan disiplin dalam semua kehidupannya karena mereka mencontoh perilaku orangtuanya, hal ini mereka dasari dari mencontoh dan melihat, tidak sekadar orangtua menyuruh dalam memberi suatu perintah pada anaknya.

maka dari itu buah jatuh tidak jauh dari pohonnya berlaku, namun jika sebaliknya gmna?

wah ini harus bener-bener kita cermati dan perhatikan

Anak- anak membutuhkan figur dalam masa pertumbuhan mereka. Maka dari itu, orangtua haruslah bertindak sebagai cermin bagi anak-anak.Dan komunikasi yang baik akan menjadi perantara serta menjembatani kepentingan dan kemauan diantara keduanya.

Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan anak ialah lingkungan. Pandangan aliran empiris mengatakan, bahwa anak yang baru lahir laksana kertas putih bersih atau semacam tabula rasa (tabula = meja, rasa=lilin), yaitu meja yang tertutup lilin putih, jadi perkembangan anak sepenuhnya bergantung pada faktor lingkungan. Agar terjadi sinkronasi yang tepat untuk memberikan pengarahan pada anak oleh karena itu komunikasi antar pribadi yang efektif perlu di bangun secara sinergis antara orang tua dan anak

Komunikasi efektif yang terjalin diantara orang tua dan anak memberikan peluang sikap terbuka anak kepada orang tua. Dalam jauhari window apabila daerah terbuka semakin melebar maka daerah lain seperti daerah buta, daerah tersembunyi dan daerah tak sadar akan semakin mengecil. Pembukaan diri anak dengan adanya komunikasi efektif akan memperluas daerah terbuka anak kepada orang tua. Sehingga orang tua tau tentang diri anak mereka dan cara berfikir mereka. Adanya intimate relationship antar orang tua dan anak juga memudahkan orang tua untuk mengarahkan anak pada tayangan – tayangan yang mendidik tanpa anak – anak merasa terganggu oleh pilihan orang tua mereka. Terlebih orang tua oleh anak telah terbangun rasa percaya.

sahabatku semua yang terhebat

Anak Sholeh dan sholehah adalah harapan semua orangtua muslim, ya gak kawan ?

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Oleh karena itu jika kita diamanahi anak oleh Allah, hendaknya kita didik mereka sebaik mungkin hingga jadi anak yang saleh. Seorang ibu jangan ragu untuk meninggalkan pekerjaannya di kantor agar bisa fokus mendidik anaknya.

apa yang harus kita mulai sejak dini ?

Pendidikan karakter seharusnya dimulai saat anak masih balita. Membentuk karakter merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter jika ia tumbuh pada lingkungan yang berkarakter pula. Dengan begitu fitrah setiap anak yang dilahirkan suci bisa berkembang secara optimal. Tentu kita masih ingat pendidikan model Nabi Ibrahim. Bagaimana beliau memilihkan tempat untuk pendidikan putranya dengan tempat yang berkarakter yaitu di lingkungan masjid.

Ternyata untuk membangun karakter anak dibutuhkan pengetahuan. Karena mendidik anak itu lebih kompleks daripada menjalani pekerjaan sehari-hari. Mengapa? Karena anak bukan benda mati. Bukan pula makhluk hidup lain layaknya hewan atau tumbuhan. Anak adalah makhluk hidup dengan kekhasan tersendiri. Maka, dibutuhkan Pendidikan Karakter.

salah satunya adalah meniru pola pendidikan ala Nabi Ibrahim As. Cara yang di tempuh nabi Ibrahim terbukti memberikan kepada kita bagiamana menghasilkan generasi yang berkualitas (sholeh) dan brilyan.

Pendidikan ala Ibrahim dimulai dengan memilih lingkungan (biah) yang baik berupa masjid sebagai tempat penempaan iman.

stategi kedua adalah mentarbiyah (mendidik) agar mendirikan sholat, karena mendirikan sholat merupakan karakter umat Muhammad.

Cara ketiga adalah dengan mentarbiyah anak agar di senangi banyak orang.

Cara keempat adalah mentarbiyah anak agar dapat menjemput rizki Alloh dengan life skills (ketrampilan hidup) dan Skill to life (ketrampilan untuk hidup).

Dan terakhir, membangun karakter anak membutuhkan keteladanan.

nah sahabatku yang dirahmati Allah,

ada orang yang mengkiaskan anak bisa diibaratkan dengan kertas putih , gelas yang kosong maupun malam yang mudah dibentuk,

Bila orang tua menuliskan kata “cinta” di atas kertas itu, maka terbentuk anak yang penuh cinta. Benarkah anak itu seperti gelas kosong, sedangkan orang tua adalah gelas yang berisi air? Bila orang tua menuangkan air putih kepada gelas kosong, maka akan berbeda dengan anak yang orang tuanya menuangkan air berwarna ke gelas kosong itu. Benarkah anak itu seperti malam, sementara orang tuanya bebas membentuk malam? Bila orang tua ingin anaknya menjadi pilot maka malam akan dibentuk menjadi pesawat. Kalau anak itu seperti kertas putih/gelas kosong/malam, maka anak lahir tanpa sifat,  tanpa memiliki selera tersendiri. Benarkah?

Tak dapat dipungkiri, orang tua memiliki pengaruh besar tetapi anak tetap bukan kertas putih/gelas kosong/malam. Setiap anak terlahir dengan kelebihannya tersendiri, karena setiap anak adalah sesosok pribadi yang unik (baik itu anak pada umumnya, atau anak dengan kebutuhan khusus, dll. Setiap anak tetap pribadi yang unik). Setiap anak itu memiliki rahasia berupa potensi.

sahabatku yang dirahmati Allah, untuk melengkapi pembahasan kita ini , kiranya kisah terakhir ini harus benar-benar  engkau baca sebagai bahan perenungan;

Abu Thalhah adalah salah seorang sahabat Nabi yang amat beruntung karena kehidupan keluarganya yang sakinah. Isterinya yang bernama Rumaisah atau lebih dikenal dengan Ummu Sulaim bukan hanya cantik dan menggairahkan, tapi juga shalehah dan cerdas. dikaruniai seorang anak dari Allah swt melengkapi kebahagiaan keluarga ini.

Namun demikian, selalu kumpul di rumah untuk selalu menikmati kebahagiaan tidaklah mungkin. Seorang suami harus keluar dari rumah untuk mencari nafkah yang juga menjadi tanggungjawab dan bukti cintanya kepada keluarga. Bahkan dalam situasi yang mendesak ia tetap harus lakukan hal itu.

Suatu ketika anak semata wayang yang mereka cintai jatuh sakit, sementara Abu Thalhah harus keluar rumah untuk mencari nafkah dan bila tidak keluar rumah, ia tidak mendapatkan apa yang menjadi kebutuhan sehari-hari. Karenanya, meskipun terasa berat ia tetap pergi untuk melaksanakan kewajibannya itu.

Ketika sore hari, anaknya yang sakit akhirnya meninggal dunia. Duka amat dalam dirasakan oleh Rumaisah, iapun mengucurkan air mata sampai terasa sudah habis bersama kesedihannya yang juga demikian. Hari sudah mendekati malam yang berarti suaminya segera pulang, IA TIDAK INGIN SUAMINYA PULANG YANG DALAM KEADAAN LELAH HARUS BERHADAPAN DENGAN KESEDIHAN YANG DALAM DAN TIDAK MENYENANGKAN.

Untuk menyambut suaminya pulang, Ummu Sulaim memindahkan jenazah anak yang dicintainya itu ke kamar khusus, iapun menutupi wajahnya yang sedih dengan sedikit bersolek dan siap menyambut kepulangan suaminya malam itu dengan wajah gembira seperti tidak ada masalah.

Kepulangan Abu Thalhah betul-betul disambut dengan gembira, saat ia bertanya tentang keadaan anaknya, iapun menjawab bahwa sang anak sedang beristirahat, bahkan lebih tenang dari biasanya. Abu Thalhah tentu merasa bersyukur. Makan malam yang lezat sudah dihidangkan oleh isteri yang amat dicintainya, bahkan sesudah makan malam selesai, sang isteri dengan wajahnya yang bersinar, bahkan nampak lebih cantik dari biasanya mengajaknya bercengkrama dengannya sehingga Abu Thalhah melakukan hubungan suami isteri dengan kepuasan tersendiri.

Setelah sang suami isteri ini merengkuh kepuasan dan kebahagiaan malam itu, Rumaisah tiba-tiba bertanya kepada suaminya: “Bila ada orang menitipkan sesuatu kepada kita, sesuatu itu milik kita atau bukan, padahal kita amat menyenangi sesuatu itu?”.
“Tentu bukan”, jawab Abu Thalhah.
Rumaisah melanjutkan pertanyaannya: “Bila sesuatu itu diambil oleh yang punya bagaimana?”.
“Tidak apa-apa, hak orang itu untuk mengambilnya karena memang hal itu miliknya”, jawab sang suami.
“Bila sesuatu itu adalah anak kita, anak itu milik kita atau titipan?”. Tanya Rumaisah lagi.
Sampai disini, Abu Thalhah merasa ada yang aneh dengan pertanyaan isterinya itu. Karenanya ia bertanya: “Apa sebenarnya maksud pertanyaanmu itu?”.
“Kalau kita menyadari bahwa anak kita adalah titipan Allah swt, maka Allah swt telah mengambilnya, ia telah wafat menjelang maghrib tadi”, jawab Rumaisah.

Meskipun kalimat itu diucapkan sedemikian pelan dan hati-hati, hal itu telah menggetarkan hati Abu Thalhah. Menyadari kematian sang anak yang dicintai membuatnya menjadi diam dan sedih serta termenung memikirkan kejadian hari itu. BILA SANG ISTERI BERKATA APA ADANYA SEJAK KEPULANGANNYA, TIDAK MUNGKIN IA HARUS BERSENANG-SENANG DENGAN MAKAN YANG LEZAT DAN MELAKUKAN HUBUNGAN SUAMI ISTERI.

NAMUN, IA MENJADI SEMAKIN CINTA DAN BANGGA KEPADA SANG ISTERI ATAS KECERDASAN HATI DAN PIKIRANNYA ATAS PERISTIWA INI. “ISTERIKU TERNYATA TELAH BERBUAT SESUATU YANG PATUT DITELADANI”, PIKIRNYA MESKIPUN IA HAMPIR TIDAK PERCAYA DENGAN APA YANG DIALAMINYA.

Setelah jenazah sang anak diurus dengan baik. Abu Thalhah merenung atas kekagumannya kepada sang isteri, ia merasa sebagai seorang suami amat tertinggal dengan isterinya dalam menyikapi sesuatu. Ia ingin berusaha untuk menjadi lebih baik dari isterinya. Maka iapun datang kepada Rasulullah saw dan menceritakan peristiwa yang sesungguhnya terjadi.

Mendengar cerita Abu Thalhah, Rasulullah saw nampak sangat antusias, wajahnya nampak begitu gembira dengan cerita tentang keadaan umatnya yang mengagumkan. Karenanya sesudah mendengar cerita itu, Rasulullah saw mendo’akan agar Allah swt memberkati malam-malam berikutnya suami isteri yang tabah itu.

Kejadian ini menjadi cerita yang tersebar luas di Madinah, para suami isteri ingin memiliki ketabahan, kesabaran dan kesungguhan seperti Abu Thalhah dan Rumaisah ini. Harapan Rasulullah saw ternyata menjadi kenyataan. Suami isteri yang mulia ini dikarunia anak-anak yang tidak hanya satu, tapi tujuh anak yang mudah dididik dan dibina menjadi anak yang shaleh, bahkan anak-anak inipun menjadi penghafal Al-Qur’an yang mengagumkan.

jelas kan, bahwa anak itu titipan yang harus kita jaga, kita rawat dan kita bina sebaik mungkin,

Jika anak adalah titipan, maka ia adalah titipan yang indah

Jika anak adalah titipan, maka semua yang bersamanya adalah titipan

Jika anak adalah titipan, maka harta yang diberikan Allah SWT untuk membesarkannya adalah titipan

Jika anak adalah titipan, maka suatu saat ia akan diminta kembali oleh yang menitipkan

Jika anak adalah titipan, maka ia adalah titipan yang harus dijaga kondisinya agar Sang Penitip tidak kecewa jika ia kembali

Jika anak adalah titipan, maka siapa kita yang memaksa Sang Penitip untuk mempercayakan nya kepada kita karena kita merasa sudah siap?

Jika anak adalah titipan, maka tugas kita untuk memberikan yang terbaik untuk titipan ini

Jika anak adalah titipan, maka
bersyukurlah yang dipercaya untuk menjaga titipan ini Jika anak adalah titipan, maka
bersyukurlah kami yang dipercaya untuk menjaga titipan ini

Jika anak adalah titipan berikan contoh yang benar dalam mengisi
kehidupannya. “Karena Anak-anak bagaikan semen basah. Apapun yang jatuh kepadanya
akan meninggalkan sebuah jejak. ”Karena Anak-anak kita akan melihat siapa diri kita melalui tingkah laku yg kita perlihatkan daripada nasehat yang kita berikan. ”Karena Anak-anak memang tidak begitu baik dalam mendengar nasehat kita sebagai orang tua, tapi mereka tidak pernah gagal dalam meniru
apapun yang kita perlihatkan pada mereka dalam keseharian yang kita lalui.”.

Jika anak adalah titipan ,subhanallah walhamdulillah walaailaahaillaallahu allahuakbar! Semoga kita semua mampu menjaga dan menjadi contoh terbaik bagi anak anak kita.

sebuah puisi

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.


Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.


Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.


Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.


Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.


Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.


Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat 
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

(by KAHLIL GIBRAN)

sahabatku yang dirahmati Allah

sudahkah kau didik anakmu sebaik mungkin mungkin menjadi anak yang cerdas, sholeh sholeha dan berakhlakul karimah  ?

jika belum ? kapan kamu akan mewujudkannya ?

Anak Itu Adlh Titipan, Titipan Itu Adlh Amanah. Menyia_nyiakan Amanah Itu Dosa.

Semoga kita semua mampu menjaga dan menjadi contoh terbaik bagi anak anak kita.

semoga bermanfaat.

“Membangun anak, membangun peradaban bangsa”

anak-jalanan

About these ads